Aku seakan mahu menerkam
Menggoncang tubuhmu yang sedang melayuh
Memberikan nafasku padamu yang sedang lempur
Kembang-kempis dadamu menyiuk udara
Setitik dan setitik air matamu
Kulihat di ekor mata
Namun engkau masih tidak mahu menyapa
Menjadikan aku benar-benar gelora
Menahan sebak di dada
Menahan pilu di hati.
Dalam sendu engkau kukapuk
Erat dalam dakapanku
Agar engkau dapat rasakan
Betapa hangat kasihku padamu
Betapa mulus cintaku padamu
Aku tekapkan cuping telingamu
Rapat ke dadaku
Agar engkau dapat mendengar
Degup-getar jantungku
Denyut kencang nadiku
Betapa aku sedang takut
kehilanganmu kekasihku
Tubuhku bagaikan tidak bertulang
Kakiku longlai bagai dilayur
Batinku menjerit perih
Mendepani realiti ini
Yang bukan mimpi ataupun ilusi
Namun aku pasrah
Pada garis yang terlukis di telapak tanganmu
Bahawa engkau kini berada di sempadan masa
Dan aku tidak berdaya
Menentang takdir yang tercipta
Wahai kekasihku
Bukalah kelopak matamu
Meskipun untuk kali yang terakhir
Aku mahu mata ruyupmu
Biarpun lesu
Melirik pada wajah anak-anakmu
Wajah aku kekasihmu
Agar engkau ,aku dan anak-anak kita
Bisa mengerti akan perpisahan ini
Yang tidak kita pinta
Wahai kekasihku
Percayalah pada janji-janjiku
Permata hati kita
Akanku jaga dan kubesarkan
Sebagaimana yang engkau impikan
Sayangku
Lontarkanlah dari bibirmu yang kian membiru
Kalimah Tayyiba untuk kali yang terakhirnya
Meskipun sukar meskipun pahit
Namun kita akur ,
Sesungguhnya dari-Nya kita datang
Dan kepada-Nya kita kembali
Sayangku
Rasakan batapa hangatnya
Kucupanku pada kening matamu
Rasakan getar gerak bibirku
Membisikkan doaku dalam butiran tasbih
‘Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
Dengan redha dan diredhai’
Lalu mata ruyupmu terkatup, rapat amat
Namun tetap saja airmata sendumu
Bertiti di ekor mata
Innalillahi wainnailahi rajiuun.
Umamah Al-Edrus
Kg. Changkat, Gombak
2hb Julai 2010.
(Buat Mereka Yang kehilangan Orang Yang Disayang)
Arsyah Yuda Ilmi
Perpisahan awal dari sebuah pengertian :)
July 9 at 5:50pm
Sharifah Umamah Al-Edrus
Ema Yulia........semoga sajak ini menjadi kenangan Ema dan harap Ema sukakannya ......dan semoga Allah swt. melimpahi rahmat roh arwah. Ameen.
July 9 at 6:03pm ·
Ema Yulia
Salam Kak..... terimakasih sajak itu ema suka sangat.setiap Ema membacanya teringat arwah suami ema yg sangat ema sayang....yg membawa banyak kenagan yg indah.....semua coretan itu benar belaka.ALLAH lebih sayangkanya.mudah mudahan ALLAH MELIMPAHI RAHMAT PD ROH ARWA DAN DI TEMPATKAN BELIAU DI SAMPING ORANG ORANG YG MULIA DI SISI ALLAH AMINNN.....
July 9 at 8:22pm ·
KhaNsa' SnEezer
aminnnn... :)
July 9 at 8:26pm ·
ءعبداين زاينال
Allah..
July 9 at 9:53pm ·
Fathiah Zawawi
Ya, sebuah karya yg cukup menyentuh perasaan! Itulah hakikat kehidupan, "tiap2 yg bernyawa pasti akan merasai maut" & bagi yg diduga sebuah kematian dlm keluarga, 'Mintalah pertolongan dgn sabar & solat, sesungguhnya Allah bersama org2 yg sabar"
July 10 at 4:27pm ·
Ema Yulia
InsyaALLAH....
July 10 at 11:14pm ·
Sharifah Azizah
Sebuah coretan yang sangat menyentuh perasaan.....i like it....tqvm sharifah Umamah.....
Monday at 5:03pm ·
Sebenarnya sajak ini saya tulis setelah kenalan saya Ema Yulia meyatakan dia menangis ketika membaca sajak 'Gugurnya Air Mata Ummi' kerana sajak it megingatkannya saat ketika arwah suaminya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tetapi sajak itu adalah untuk anak-anak yang sedang memohon ampun pada saat-saat ibunya sedang nazak, yang saya ilhamkan dari novel tulisan saya yang masih dalam proses penerbitan. Ema menyatakan betapa kasihnya dia pada suaminya, maka saya berjanji akan menulis sajak yang sesuai untuk simpanannya, maka lahirlah sajak 'Perpisahan ini...tidak kita pinta'
Saya begitu sukar menulis sajak ini kerana melibatkan emosi yang cukup mendalam. Semasa proses penulisan sajak ini saya beberapa kali menangis. Saya benar-benar membayangkan saat-saat yang dilalui Ema ketika suaminya menghembuskan nafas terakhir kerana HINI...dan sebenarnya juga mengingatkan saat-saat kali terakhir bagaimana ibu saya menghadapi pemergian arwah ayah saya yang mengidap buah pinggang dan diabetes pada ketika kami adik-beradik masih kecil dan yang ketiga saya sangat membayangkan bagaimana seorang lagi yang kenal sebagai Syed Husairi Al-Attas ketika pemergian arwah isterinya yang mengidap kanser pada usia yang sangat muda dan anak-anak yang masih kecil.
Satu yang nyata pada saya semasa menulis sajak ini ialah kita tidak mampu menentang takdir yang tercipta. Takdir yang tercipta pula berlaku pada mereka yang masih muda menyebabkan kita yang kehilangannya amat merasainya sekali. Terima kasih kepada yang memberi sokongan pada sajak saya ini.
No comments:
Post a Comment